Sabtu, Desember 13

Apa Tujuannya Sistem Pendidikan Di Sini? Kok Siswa Diberikan Stres Terus?



Assalamu’alaikum wr.wb.,
Yang saya dengar dari siswa, kurang lebih seperti ini kehidupan untuk anak kelas 3 SMA sekarang (di Jakarta).

Wajib masuk sekolah jam 6.30 pagi. Belajar sepanjang hari. Dalam waktu 8 bulan akan ada UN, jadi sekolah kasih materi tambahan. Baru bisa pulang jam 4.30. Selalu macet. Harus langsung berangkat ke Bimbel, karena takut kalau tidak ikut Bimbel tidak bisa lulus UN dan harus mengulang satu tahun. Selesai Bimbel jam 8.30 malam. Pulang ke rumah. Sudah jam 9 malam. Belum makan malam, belum mandi, belum shalat, dan masih harus kerjakan PR untuk 3-4 jam per malam (termasuk untuk pelajaran yang tidak diinginkan).

Selalu tidur di atas jam 12 malam (kecuali ketiduran karena capek), dan selalu telat bangun untuk shalat subuh. Bangun buru2, shalat buru2, mandi2 buru, tidak ada waktu untuk sarapan, ngebut ke sekolah (karena kalau telat, tidak boleh masuk tanpa panggil orang tua ke sekolah). Lebih baik ambil risiko senggolan atau tabrakanan dengan orang lain di jalan, lalu kabur, daripada bersikap sikap hati2. Kalau senggolan atau tabrakan dan berhenti untuk tanggung jawab di jalan tapi sampai sekolah telat, akan dilarang masuk. Buat apa berhati-hati dan tanggung jawab di jalan? Rugi!

Setiap hari yang dirasakan adalah stres, stres, dan stres lagi. Hanya ada pilihan IPA atau IPS, jadi kalau sudah masuk IPA karena punya niat ikuti satu karir (yang butuh 1-2 pelajaran IPA) tetap dipaksakan belajar Kimia, Fisika, Bahasa Mandarin dan lain2, padahal tidak dibutuhkan, tidak disenangi, dan tidak bermanfaat untuk karir yang sudah menjadi pilihan. Lalu ada PR dan ulangan yang banyak untuk 18 mata pelajaran itu (yang kebanyakan tidak diinginkan).

Dan sekarang, mau diwajibkan belajar hari Sabtu juga? Serius? Kalau dalam waktu beberapa bulan ke depan, muncul fenomena sekian banyak siswa SMA kelas 3 bunuh diri, atau masuk rumah sakit jiwa, atau harus ditangani psikiater karena mengalami depresi, atau ada peningkatan frekuensi tawuran dan tindakan anarkis, SIAPA yang kira-kira mau tanggung jawab? Guru tidak. Orang tua tidak. Dinas pendidikan tidak. Kemdikbud tidak. Presiden tidak. Jadi siapa? Perlu berapa anak bunuh diri sebelum 100 juta orang tua dan 3 juta guru mau bersatu untuk mengatakan “SISTEM PENDIDIKAN SEPERTI INI TIDAK BAIK DAN TIDAK ADIL!!”

Saya ingat waktu dulu sekolah di Selandia Baru, dan mengajar di Australia. Masuk sekolah jam 8:50 pagi, belajar sampai jam 12. Istirahat 1 jam penuh. Masuk jam 1 sampai jam 3:10, dan pulang. Tidak ada anak di seluruh sekolah yang ikut Bimbel. PR dibatasi dan tidak boleh melebihi sekian menit per kelas, atau sekian jam secara keseluruhan. Guru diajarkan untuk tidak memberikan banyak PR (kalau tidak penting sekali).

Dan sudah terbukti dari riset bahwa untuk anak yang dikasih PR setiap malam, maka bedanya dalam ujian hanya 1-3% saja. Artinya, kalau anak dipaksakan mengerjakan PR selama 2-3 jam per malam, selama 3 tahun atau lebih, maka hasilnya adalah nilai akhir mereka hanya 1-3% lebih tinggi daripada anak yang tidak dikasih PR atau dikasih PR yang ringan dan minimal. Jadi buat apa dikerjakan terus?

Dan di sekolah Selandia Baru dan Australia, mata pelajaran untuk SMA kelas 3 bukan 18, tetapi 5 atau 6 (dan boleh juga yang mimimal 4 saja). Selain matematika dan bahasa Inggris, semuanya adalah pilihan siswa, sesuai dengan rencana karirnya nanti. (Bebas pilih pelajaran sudah dimulai dari SMP, dan diteruskan lagi di kelas 1-3 di SMA.)

Kapan anak Indonesia akan dapat sistem pendidikan berkualitas? Kapan bisa diselamatkan dari stress dan horror yang dirasakan setiap hari ketika berangkat sekolah, dan pulang dari Bimbel untuk menghadapi 3 jam PR? Kapan 100 juta orang tua dan 3 juta guru bisa BERSATU dan mengatakan anak Indonesia patut mendapatkan yang lebih baik?

Semoga kebijakan masuk sekolah pada hari Sabtu segera dibatalkan, dan semoga UN pada tahun ini juga dihapus untuk selama2nya. Dan semoga guru bisa memberikan pelajaran yang bermutu di kelas sehingga tidak ada siswa yang perlu ikut Bimbel lagi (kecuali sangat dibutuhkan oleh siswa tertentu). Dan semoga semua siswa bisa dapat waktu kosong yang banyak untuk belajar menemukan BAKAT yang Allah berikan kepada mereka untuk dikembangkan sebagai orang dewasa yang bermanfaat untuk masa depan umat, bangsa dan negara.

Apa para orang tua, guru dan siswa bisa bersatu untuk mencapai tujuan itu?

Wassalamu’alaikum wr.wb.,
Gene Netto

Kamis, Desember 11

Tak Kuhadiri Reuni, Sebab Aku Miskin

Karya : Bu Anni



Booming Facebook, Booming Reuni

Ini semua gara-gara Facebook. Hebat betul media sosial yang satu ini mempengaruhi bahkan mengubah hidup manusia. Bayangkan saja, teman sekolah, teman sepermainan waktu kecil, mantan kekasih, mantan teman satu kantor, sanak saudara,yang sudah puluhan tahun tak berjumpa, yang kita pikir sudah hilang ditelan bumi, tiba-tiba dalam hitungan minggu atau bulan saja, sudah ditemukan, bahkan sudah bisa kontak lagi. Ini benar-benar sebuah keajaban dunia maya !

Booming Facebook, diikuti dengan maraknya penyelenggaraan acara reuni, sebab pertemuan di dunia maya dirasa tak cukup lagi memuaskan rasa rindu pada teman di masa lalu. Beragam undangan reunipun berdatangan, dari reuni SD hingga reuni kantor. Sayangnya tidak seluruh undangan reuni itu bisa kita hadiri karena berbagai alasan.

Selalu ada perasaan yang sama manakala kita menghadiri acara reuni : perasaan bahagia ketika rindu terobati ,saat akhirnya dapat berjumpa lagi dengan sahabat tercinta yang telah hilang bertahun-tahun. Rasa haru biru yang menyelinapi hati saat menyalami Bapak dan Ibu Guru yang sudah sepuh, juga suasana nostalgia yang begitu melenakan, yang membuat kita tak ingat umur, terlupa sejenak bahwa kita kini sudah menjadi orang tua. Obrolan dan canda tawa yang terjalin, sangat menghanyutkan kita ke masa muda, saat kita masih sekolah dulu. Ah asyiknya ..

Tak menghadiri reuni sebab miskin

Dalam sebuah kunjungan ke rumah famili saya di Bandung, saya terlibat obrolan serius dengan seorang kerabat dekat saya. Kerabat saya itu seorang laki-laki yang usianya lebih muda beberapa tahun dibawah usiaku. Pekerjaan sehari-harinya adalah berjualan bensin eceran di sebuah kios kecil di pinggir jalan raya di kota Bandung. Sebut saja nama kerabatku itu Fahmi.

Dengan pekerjaan seperti itu, tentu saja Fahmi tidak bisa membuat keluarganya (istri dan ketiga anaknya ) hidup nyaman berkecukupan secara materi. Itu terlihat dari rumah beserta isinya yang sangat sederhana dan terkesan seadanya. Dan disini, di atas sehelai karpet di ruang keluarga yang sempit, kami berbincang hangat tentang segala hal, maklum sudah lama tidak bertemu.

Kebetulan saya dan Fahmi satu sekolah saat di SD dulu. Kepada Fahmi saya menyampaikan rencana acara reuni akbar SD untuk semua angkatan yang akan dilaksanakan selepas Lebaran nanti. Mendengar kabar itu, Fahmi hanya terdiam dan tampak tercenung. Tadinya saya tidak terlalu memperhatikan perubahan air mukanya. Namun setelah mendengarkan kata-katanya, gantian sayalah yang tercenung cukup lama.

” Aku tak akan menghadiri acara reuni dimanapun, sebab aku miskin “.

Kata – kata yang keluar dari mulutnya terdengar begitu lirih dan sedih. Saya terhenyak mendengarnya, namun sudah dapat menduga kelanjutan kalimatnya.

“ Aku malu pada teman-teman yang sudah kaya dan sukses “

“ Apa hubungannya reuni dengan kaya- miskin ? ayolah datang ! yang penting silaturahminya. Lagi pula tak akan ada orang yang bertanya-tanya apakah kita ini kaya atau miskin ! “, bantahku. Bantahan yang aku tahu terdengar sangat klise dan sangat naïf jika tidak dapat dikatakan bodoh.

Fahmi hanya tersenyum, menghela nafas, dan menggeleng. “ Aku nggak akan datang “.Pembicaraan tentang reunipun berhenti sampai disitu, tak dilanjutkan lagi sampai saya dan suami pamit pulang.

Pertanyaan - pertanyaan yang membuat rikuh …

Apa yang pertama kali ditanyakan di acara reuni, saat pertama kali berjumpa dengan teman-teman yang sudah lama sekali tidak bertemu ? apakah pertanyaan seputar : sekarang tinggal dimana ? sudah married ? anaknya sudah berapa ?. Mungkin terdengar seperti pertanyaan biasa saja, basa-basi normal yang acap kali terlontar dalam setiap pergaulan. Namun bahkan pertanyaan sesederhana itu menjadi sangat sensitif bagi sebagian orang yang (mohon maaf) belum mendapatkan jodohnya sementara usia semakin menua umpamanya, atau bagi pasangan yang belum mendapatkan keturunan padahal sudah bertahun-tahun menikah. Jadi jangankan pertanyaan soal kaya atau miskin ( yang mana pertanyaan seperti ini mustahil dilontarkan dalam keadaan serius), perkara sudah menikah dan memiliki keturunan saja sudah cukup membuat sebagian orang enggan menghadiri acara reuni, karena merasa malu dan minder.

Katakanlah pertanyaan -pertanyaan standar sudah terlampaui, lalu masuklah kita pada pertanyaan berikutnya, yakni soal pendidikan, soal pekerjaan, soal karir, dsb. Nah disinlah letak permasalahannya. Ketika pembicaraan sudah menyangkut masalah-masalah itu, akan ada teman-teman yang merasa sangat enggan untuk menjawab, karena merasa minder, sebab pendidikan dan pekerjaannya tak terlampau bergengsi, tak terlampau berkelas dan menghasilkan income yang besar untuk dibanggakan. Beberapa teman lagi memilih menghindar dengan tidak menghadiri reuni, daripada harus menghadapi pertanyaan-pertanyaan serupa itu.

Kadang Reuni Memang menjadi Ajang Pamer
( Ukuran Kesuksesan Kaum Hedonis : HARTA)


Saya tidak dalam kapasitas menilai acara-acara reuni yang sudah saya hadiri, karena saya sangat menghargai teman-teman yang sudah bersusah payah menyelenggarakan acara tersebut, dan sebab saya sangat menghormati teman-teman saya. Lagi pula semua acara reuni yang saya hadiri, jauh dari kesan hedonik.

Namun di luar itu, kita melihat betapa banyak reuni yang digelar dengan sangat megah di hotel-hotel berbintang, dengan acara dan sajian makanan minuman serba mewah dan melimpah, lebih mirip sebuah pesta ketimbang reuni. Oh ya tentu saja mereka yang hadir adalah orang-orang yang sudah sukses, sudah kaya raya, atau sudah menjadi pejabat atau tokoh ternama di negeri ini. Terlihat dari penampilan mereka yang serba gemerlap , juga terlihat dari deretan mobil mewah yang terparkir di pelataran hotel, dengan petugas keamanan dan kepolisian berseliweran di sekitar area reuni.

Apakah mereka teman-teman kita ? ya tentu saja, mereka adalah teman-teman kita, teman sekolah kita. Bahkan mungkin saja mereka adalah teman sebangku kita, yang terbawa nasib menjadi orang yang sukses secara duniawi. Perkara mereka telah terlihat bak penduduk negeri langit, jangan lupa sudah berapa masa kita tak berjumpa dengan mereka ? jangan lupa juga, waktu yang telah lama terlampaui membuat manusia berubah. Tak hanya fisiknya, namun sifat dan karakternya pun bisa saja berganti.

Tak usah heran jika kemudian dalam kesempatan reuni, kita menemukan teman karib kita begitu membanggakan penampilannya yang serba wah, menceritakan dengan penuh semangat perawatan wajah yang dia jalani, tatkala teman-teman yang lain memuji kemulusan kulitnya. Menceritakan dengan sumringah perjalanan-perjalanan bisnisnya ke kota-kota besar dunia , seraya mempermainkan tali tas Hermesnya yang berharga puluhan juta. Jika sudah begini, tak ada gunanya kita membanggakan anak kita yang hafal 5 juz Al Quran, atau juara Olimpiade Fisika, atau rasa syukur karena anak kita diterima di perguruan tinggi negeri. Tak ada manfaatnya, karena sama sekali bukan itu ukuran kesuksesan kaum hedonik.

Lebih banyak teman-teman yang kurang beruntung

Lalu bagaimana dengan teman-teman yang belum sukses ? bagaimana dengan teman-teman yang bekerja mencari nafkah membanting tulang menjual bensin eceran dan tambal ban seperti Fahmi ? yang tinggal di rumah kontrakan terselip di pelosok gang sempit yang kumuh dan pengap ? yang hanya memiliki kendaraan sepeda motor cicilan ?. Apakah orang-orang seperti Fahmi akan memiliki cukup keberanian untuk hadir ke acara reuni semegah itu ? Fahmi tidak berani, dan saya rasa banyak orang seperti Fahmi yang juga tak cukup memiliki nyali untuk melakukannya.

Saya sangat memaklumi perasaan Fahmi. Sebab bagi orang yang tidak mampu, pembicaraan tentang kelimpahan materi di antara teman yang sukses hanya akan melukai perasannya. Fahmi mungkin tidak merasa iri dengan keberhasilan teman-temannya, tapi dia jelas merasa sedih. Betapa tidak merasa sedih, jika dilihatnya teman-teman sepermainannya hidup serba berkecukupan, sementara dia serba berkekurangan ?

Saya jadi berpikir, pantas saja acara- acara reuni yang saya datangi, hanya dihadiri sebagian kecil saja dari jumlah keseluruhan yang tercatat dan seharusnya hadir. Kemanakah gerangan teman-teman yang lain ? mengapa tidak ada kabar beritanya ?. Tadinya saya berpikir, mereka mungkin sibuk, atau terkendala jarak yang jauh. Namun melihat Fahmi, saya jadi berpendapat lain. Mungkin karena mereka yang tidak hadir itu memiliki alasan yang sama dengan Fahmi : merasa malu menghadiri reuni karena miskin.

Seharusnya persahabatan tidak terhalang status sosial
Saya tetap merasa bersyukur, karena sebagian besar teman-teman saya tidak berkelakuan aneh, meski mereka telah sangat sukses dari segi materi dan status sosial di masyarakat. Hanya segelintir saja yang bersikap sangat ajaib, kalau tidak bisa dibilang norak dan berlebihan dalam memamerkan kekayaannya. Mereka ini sangat tidak empatif terhadap orang-orang yang kesusahan.

Bagi orang yang memiliki kecerdasan sosial yang tinggi, harta sama sekali bukan ukuran kesuksesan, dan sama sekali bukan syarat bagi terjalinnya sebuah pertemanan. Dari dulu sampai kapanpun, teman tetaplah teman, tak boleh ada yang menghalangi, apalagi hanya sekedar harta yang sifatnya sementara.

Saya hanya ingin mengatakan bahwa reuni tidak pernah salah. Yang salah adalah segelintir oknum hadirinnya. Hadirin yang berlagak jadi orang yang paling penting sedunia, yang bersikap mentang-mentang. Orang-orang seperti inilah yang membuat teman-teman yang kurang beruntung, menjadi enggan hadir, dan menyebabkan tujuan reuni tidak tercapai.

Sementara pendapat saya bagi teman-teman yang enggan menghadiri reuni karena faktor ketiadaan harta, percayalah bahwa sebagian terbesar dari kami adalah orang-orang yang memandang persahabatan adalah sesuatu yang sangat bernilai dalam hidup kami. Tak perlu malu menghadiri reuni hanya karena ketiadaan harta, karena kami tak peduli. Kami hanya rindu padamu, kami hanya ingin mendengar kabar, bahwa engkau tetap sehat dan penuh semangat dalam mengarungi kehidupan ini. Kami hanya ingin berteman denganmu, selamanya. Selebihnya, tak penting lagi.


Salam sayang, Anni ( yang sering malas menghadiri Reuni )

Minggu, November 16

Mari Belajar Seni Kehidupan dari Jalan Raya


Lupakan; Suku, Ras, Agama, Gender, Status sosial, dsb. ketika membaca thread ini! Saatnya lepas 'embel-embel' dan 'cara berpikir' anda, karena ini saatnya kita belajar memaknai seni kehidupan dari perspektif jalan raya. 

Perspektif, wikipedia :
  • Perspektif (visual), bagaimana benda terlihat di mata berdasarkan atribut spasial
  • Perspektif (grafis), representasi perspektif visual pada gambar
  • Perspektif (kognitif), sudut pandang manusia dalam memilih opini, kepercayaan, dan lain-lain
  • Perspektif (geometri), sifat segitiga dalam matematika
1.

Coba lihat gambar diatas. Adakah ujung jalan disana?
Tidak akan ada! Kenapa?
Ujung dari sebuah jalan hanya ada di Lepas Pantai, Tanjung, dsb. karena itu adalah batas dari daratan dan lautan. 
Jikapun ada, itu bukanlah 'ujung jalan', melainkan 'jalan buntu'
Jadi selama kita/kendaraan kita bergerak maju, tidak akan kita temukan ujung jalan kecuali sampai di batas antara darat & laut.

Lalu, pernahkah agan dan aganwati sekalian bertemu dengan 'Akhir Kehidupan?' 
Pasti tidak! Kenapa?
Akhir kehidupan hanya agan  dan aganwati temui ketika titik nafas terakhir, itulah Kematian.
Jikalau agan dan aganwati bertemu sesuatu yang dianggap 'titik akhir' hidup agan dan aganwati (Sakit keras, PHK, Putus Cinta, dsb.) 
Percayalah, itu bukan akhir dari hidup agan dan aganwati. Masih akan ada hari esok untuk agan berbuat baik dan memperbaiki kesalahan di masa lalu. 
Selama kita masih bisa bernafas, lakukan hal terbaik yang kita bisa. Kita tidak pernah tahu kapan akhir dari 'jalan hidup' kita selama di dunia.

2.


Apa yang agan dan aganwati lakukan ketika telah sampai di tempat tujuan?
Setiap manusia, punya tujuan sendiri ketika memutuskan untuk keluar rumah dan sampai di jalan raya
Ada yang berpanas-panas dijalan agar bisa sampai di rumah mertua
Ada pula yang rela memacu kendaraan dengan cepat agar sampai di kantor 
Dan, ada juga yang rela naik angkot agar bisa kuliah tepat waktu
Lalu apa yang agan dan aganwati lakukan ketika telah sampai di tempat tujuan?
(Kantor, Kampus, Rumah, Dsb.)
Yang kita lakukan adalah menikmati sesaat tempat tujuan yang telah dicapai, sebelum akhirnya kembali melakukan 'perjalanan' lainnya. 

Kita hubungkan dengan kehidupan
Pernahkah agan dan aganwati merasa senang bukan main ketika telah mencapai target yang ingin dituju?
Agan dan aganwati mati-matian belajar agar lulus SMA
Kemudian mempersiapkan diri menuju Universitas
Lalu pada akhirnya berjuang untuk mendapat pekerjaan
Ketika satu tujuan telah tercapai, bukan main rasanya. Senang, Bangga, Terkejut, semua jadi satu
Nikmatilah saat-saat bahagia ketika tujuan berhasil tercapai, sebelum akhirnya beranjak menuju tujuan lainnya.

3.


Tidak selamanya jalan itu mulus, kadangkala langkah kita terhenti akibat banyak hal
Mungkin itu masalah ban yang bocor
Atau mesin mobil agan dan aganwati yang rusak
Hingga jalan berlubang yang membuat macet
Lalu jika begitu apa yang harus diperbuat?
Perbaiki yang rusak, pompa ban yang kempes, dan 
berdoalah jalan yang rusak tadi diperbaiki esok hari
Karena tidak satupun kerikil yang akan membuat kita berhenti berjalan.

Begitupun ketika agan dan aganwati mencoba mencapai tujuan hidup, 
tidak selamanya 'perjalanan' itu akan selalu mulus.
Mungkin saja bertemu bos yang galak
Atau orangtua yang menghalangi kehendak agan dan aganwati
Bisa juga karena persaingan yang berat
Maka itu apa yang harus diperbuat?
Berusaha agar semua hal yang agan dan aganwati lakukan berhasil dengan baik
Berdoa dan bertawakal, karena sekeras apapun agan dan aganwati berusaha, tetaplah tuhan yang menentukan
Meskipun langkah terasa berat, keringat banyak terkuras, Capeknya tidak tertahan. Tapi semua akan terasa indah ketika impian dan cita-cita telah berhasil di realisasi kan.


4.


Secepat apa kita berjalan dan melaju?
Ada begitu banyak kendaraan yang melaju di belakang agan dan aganwati
Lalu kenapa masih saja ada kendaraan di depan agan dan aganwati? 
Bukankah agan yang paling cepat berjalan?
Kembali ke point 1; karena jalan tidak pernah ada ujungnya
Secepat apapun kendaraan kita pacu, 
sebanyak apapun kendaraan yang telah agan dan aganwati lewati
Tetap akan ada kendaraan yang lain menunggu di depan jalan
Agan dan aganwati tidak akan pernah menjadi nomor satu di jalanan, kecuali di lintasan balap
Yang bisa agan dan aganwati lakukan hanya tentukan arah tujuan dan tiba paling cepat disana, 
baru kita bisa disebut 'si nomor satu'

Sehebat apapun agan dan aganwati mengemudi, sebanyak apapun kendaraan telah dilewati, tetap akan percuma ketika agan tidak punya tujuan yang pasti.



Setiap manusia ingin meraih sukses
Tapi, tidak semua tahu cara meraih sukses
Maka secepat apapun kita melangkah, secepat apapun kita mengambil keputusan
Tidak akan pernah ada hasilnya saat tujuan kita sendiri belum jelas
Maka dari saat ini juga, buat detail kesuksesan yang akan agan dan aganwati capai
Di bidang apa? Dengan cara apa? Berteman dengan siapa?
Karena saat agan dan aganwati telah mencapai 'tujuan' tersebut, artinya tujuan agan telah tercapai. Dan sudah saatnya menggapai 'tujuan' lainnya (Kembali ke point 2) 


5.



Dengan siapa kita akan berjalan?
Entah teman baik yang agan dan aganwati kenal sejak SMA
Atau ibu mertua yang sudah lama tidak agan dan aganwati temui
Siapapun itu, hanya satu yang perlu agan dan aganwati lakukan
Berbuat baik padanya, Perlakukan seolah-olah ia adalah bagian dari diri agan dan aganwati, 
Hormati dan sopan padanya
Kecuali agan dan aganwati ingin ia melompat dari kendaraan agan dan menumpang 
kendaraan lain yang kebetulan lewat
Tidak akan ada orang yang betah berlama-lama menaiki kendaraan agan dan aganwati, 
kecuali agan dan aganwati bersikap baik dan sopan.

Hingga detik ini, siapa orang yang paling sering bersama agan dan aganwati?
Bisa saja orangtua agan dan aganwati yang masih lengkap
Atau juga pacar yang mulai dipertanyakan kesetiaannya
Sama seperti ketika menjaga sikap dalam kendaraan, 
menjaga sikap dalam pergaulan juga teramat penting 
Siapa yang akan mengantarkan agan dan aganwati meraih kesuksesan, kecuali orang terdekat agan dan aganwati? 
Dan tugas agan dan aganwati adalah menjaganya agar ia betah terus bersama agan dan aganwati.

6.


Yang terjatuh belajar bangkit
Suatu ketika kendaraan yang agan dan aganwati gunakan menabrak pagar
Disaat yang lain sebuah motor terjatuh akibat jalan licin
Ada sebuah pelajaran yang didapat oleh orang-orang yang mengalami kejadian tersebut
Yaitu bagaimana cara berkendara yang benar, 
juga belajar untuk tidak berkendara saat kondisi tidak tepat
Karena hanya keledai yang mau terjatuh di lubang yang sama.

Apa yang kita pelajari ketika gagal meraih sukses?
Contohnya ketika tahun lalu agan dan aganwati gagal masuk universitas 
Juga disaat pacar yang agan dan aganwati sayangi meninggalkan agan
Disanalah hikmah dapat dipetik
Yaitu bagaimana caranya agar kegagalan tidak lagi menghampiri
Agan dan aganwati juga belajar bagaimana cara untuk bangkit dari keterpurukan
Karena dalam hati agan dan aganwati hanya perlu yakin, bahwa kegagalan adalah langkah awal menuju kesuksesan.


Terakhir.

Saran mimin :

Hidup adalah kumpulan detik yang terus menerus berakumulasi. 
Begitu banyak orang yang merelakan tiap detiknya terbuang
Hingga akhirnya tanpa sadar detik yang telah terbuang makin bertambah jumlahnya hingga hitungan hari, bulan dan tahun.
Jangan sia-sia kan tiap detik agan dan aganwati yang berharga
Berbuatlah yang terbaik guna memaksimalkan detik-detik tersebut

Pengertian dan Klasifikasi Tekanan Darah



Pengertian dan Klasifikasi Tekanan Darah – Yang dimaksud dengan Tekanan Darah adalah jumlah tenaga darah yang ditekan terhadap dinding Arteri (pembuluh nadi) saat Jantung memompakan darah ke seluruh tubuh manusia. Tekanan darah merupakan salah satu pengukuran yang penting dalam menjaga kesehatan tubuh, karena Tekanan darah yang tinggi atau Hipertensi dalam jangka panjang akan menyebabkan perenggangan dinding arteri dan mengakibatkan pecahnya pembuluh darah. Pecahnya pembuluh darah inilah yang menyebabkan terjadinya Stroke. Beberapa penyakit yang diakibatkan oleh Tekanan darah tinggi diantaranya adalah Stroke, Penyakit Jantung, Penyakit Ginjal dan Aneurisma.

Pada umumnya Hipertensi atau Tekanan Darah Tinggi tidak menunjukan gejala ataupun tanda-tanda yang berarti sehingga seorang penderita Hipertensi sangat sulit untuk mengetahui apakah dirinya mengalami tekanan darah tinggi. Oleh karena itu, setiap orang dianjurkan untuk memeriksa Tekanan darahnya secara rutin dan berkala.

Terdapat 2 (dua) pengukuran penting dalam Tekanan darah, yaitu Tekanan Sistolik dan Tekanan Diastolik.
1. Tekanan Sistolik (Systolic Pressure) adalah Tekanan Darah saat Jantung berdetak dan                          memompakan darah.
2. Tekanan Diastolik (Diastolic) adalah Tekanan darah saat Jantung beristirahat di antara detakan.

Klasifikasi Tekanan Darah untuk Orang Dewasa
Kategori
Tekanan Sistolik, mm Hg
Tekanan Diastolik, mm Hg
Hipotensi
< 90
< 60
Normal
90 – 119
60 – 79
Prehipertensi
120 – 139
80 – 89
Hipertensi Tingkat 1
140 – 159
90 – 99
Hipertensi Tingkat 2
160 – 179
100 – 109
Hipertensi Tingkat Darurat
≥ 180
≥ 110

Berdasarkan Tabel Klasifikasi Tekanan Darah diatas, Tekanan Darah yang Normal adalah berkisar antara 90mmHg sampai 119mmHg untuk Tekanan Sistolik sedangkan untuk Tekanan Diastolik adalah sekitar 60mmHg sampai 79mmHg. Tekanan darah dibawah 90/60 mmHg dikategorikan sebagai Hipotensi (Hypotension) atau Tekanan Darah Rendah, sedangkan diatas 140/90mmHg sudah dikategorikan sebagai Tekanan Darah Tinggi atau Hipertensi (Hypertension).

Pada umumnya, setelah dokter maupun perawat memeriksa tekanan darah kita, mereka akan memberitahukan kepada kita hasil pengukuran Tekanan Darah dengan menyebutkan Tekanan Sistolik dan Tekanan Diastoliknya baik secara lisan maupun tulisan. Contohnya 120/80. Dari contoh angka tersebut, maka kita dapat mengetahui bahwa Tekanan Sistolik adalah 120mmHg dan Tekanan Diastolik adalah 80mmHg.

Untuk mencegah Tekanan Darah Tinggi, kita perlu menjalani gaya hidup sehat dengan menghindari atau berhenti merokok, mengurangi konsumsi Garam dan Natrium yang berlebihan, membatasi konsumsi Alkohol, menjaga berat badan, mengonsumsi makanan yang berserat tinggi (sayur dan buah) serta rutin berolahraga.

Migrasi Kepiting









Ini adalah migrasi kepiting yang terjadi di Pulau Christmas yang letaknya ternyata lumayan dekat dengan pulau Jawa di Samudera Hindia, yaitu di selatan Pulau Jawa, sekitar 300 km selatan Jawa Barat. Pulau ini dihuni oleh 1500 orang, dan sekitar 100 juta Kepiting Merah (Gecarcoidea natalis). 





Sayangnya disini belum ada restoran padang karena kalau sudah ada, bisa dibikin kepiting saus padang secara masif .. yummmm.










Pajak Pria Tampan di Jepang untuk Mengatasi Krisis Ekonomi

ASSALAMUALAIKUM WR.WB

Langsung aja gan gak usah neko - neko

Tahun-tahun ini memang Jepang telah menghadapi krisis ekonomi yang terkait dengan tingkat kelahiran yang menurun dan populasi yang menua meningkat secara serius.

 Takuro Morinaga profesor ekonomi Jepang di Dokkyo Universitas Saitama di pinggiran kota Tokyo dan kolumnis televisi, menyarankan sebuah solusi yang unik dan baru untuk mengatasi masalah Negara jepang , yaitu menarik pajak dari para pria tampan seperti dilansir WeirdAsiaNews.

Rencana perpajakan untuk para pria tampan ini diduga akan menciptakan cara agar para pria “rumahan” mencari wanita, menikah, dan memiliki anak.

Selain “kesenjangan kekayaan” Takuro Morinaga melihat “celah cinta” sebagai faktor fundamental menurunnya angka kelahiran di Jepang. Oleh karena itu, ia menyimpulkan bahwa jika Jepang menarik pajak dari para ikemen (pria tampan – ed) dan mengurangi pajak dari para pria yang tidak begitu tampan, maka mungkin perekonomian negara akan lebih baik dalam waktu satu tahun.
Pajak pria tampan yang diusulkan ini akan termasuk menggandakan pajak dari orang-orang yang memenuhi syarat dan mengurangi pajak sebesar 10-20% bagi mereka yang tidak begitu tampan.

Untuk menilai apakah seseorang tampan atau tidak, akan ada panel yang terdiri dari para wanita yang dipilih secara acak untuk memutuskannya.

Saran ini sedikit subyektif, tapi warga Jepang terutama Menteri Ekonomi menganggap ini sebagai hal yang serius dan berharap akan membantu mengurangi krisis ekonomi di Jepang saat ini.

buaahahahha..hati" buat agan yang cakep"..

Posting Lama